tvlabcomm@gmail.com - 0818 936 046 - 0812 271 77049

tvlabcomm@gmail.com - 0818 936 046 - 0812 271 77049
what are you looking for? I am down...

Wednesday, February 27, 2013

Samsung Writing Competition



Saya punya sedikit kisah sukses tentang karya saya dalam membuat acara komedi Srimulat Cari Bakat ANTV pada 2011. Memang sudah 2 tahun lewat, tetapi membuat acara televisi yang melibatkan ribuan orang peserta audisi humor Srimulat Cari Bakat, melibatkan puluhan tenaga kerja ANTV dan segenap dukungan dari keluarga besar Srimulat adalah titik puncak kreatifitas saya di dunia pertelevisian dan komedi Indonesia.

Saya menganggap itu sebuah kesuksesan. Karena sudah lama saya ingin melihat grup komedi terbesar Indonesia, Srimulat, kembali tampil di panggung televisi. Bukan melulu dalam format komedi panggung melainkan menjadi sebuah acara audisi yang begitu rumit dan melibatkan sebuah stasiun televisi menjadikannya tayangan serial selama berbulan-bulan.

Awal mulanya, saya menulis buku tentang kisah perjalanan grup komedi legendaris Srimulat. Dimulai dari tahun 2008, data tentang Srimulat satu persatu saya kumpulkan lewat riset dan hasil wawancara dengan putra Almarhum Pak Teguh pendiri Srimulat. Nama beliau, Mas Koko. Darinya saya mendapatkan kisah luar biasa sebuah grup komedi beranggotakan lebih dari 100 orang yang didirikan sejak tahun 1950-an, oleh ibu Srimulat dan Pak Teguh. Ya, Srimulat diambil dari nama pendirinya, ibu R.A Srimulat. Seorang bangsawan yang bertransformasi menjadi seniman panggung dan menjadi wanita pertama di Indonesia yang mendirikan grup komedi terbesar hingga saat ini.

Lalu, buku Srimulat I dan II berhasil saya tulis dan diterbitkan penerbit Tiga Serangkai Solo. Buku ini masih dapat Anda jumpai di berbagai toko buku besar di Indonesia. Tidak berhenti di pembuatan buku, saya mencoba melemparkan ide untuk membuat acara audisi mencari Srimulat Junior yang akan meneruskan tradisi lawak Indonesia. Gayung bersambut,  saya bersama manajemen Srimulat berhasil mengajak bekerja sama dengan stasiun ANTV untuk membuat acara audisi Srimulat Cari Bakat pada 2011.

Lalu, detik-detik mengharukan itu terjadi. Acara audisi Srimulat Cari Bakat berhasil mempertemukan keluarga besar Srimulat yang sebagian tercerai berai di berbagai kota di Indonesia. Air mata saya menetes tatkala melihat para senior seperti Pak Tohir (pemeran drakula), Bambang Gentolet, Didik Mangkuprodjo, Eko Londo dan para punggawa Srimulat dari Surabaya, turut bergabung memeriahkan acara audisi ini di Jakarta, Bandung, Surabaya dan Solo. Betapa sekian lama mereka hidup saling terpisah, sementara rekan-rekan mereka seperti Mamiek, Gogon, Tarzan, Nunung OVJ, Kadir dan beberapa senior lainnya yang tinggal di Jakarta dan mencapai puncak popularitas di sana.

Acara ini bukan sekedar sebuah audisi. Melainkan sebuah reuni keluarga besar Srimulat yang sekaligus mencari bibit-bibit penerus  di masa depan. Para peserta Audisi yang rata-rata berasal dari orang-orang daerah datang sambil membawa mimpi, kelak akan menjadi komedian terkenal. Saya merasa bahagia melihat semua itu bisa terjadi.

Ah, saya sudah cukup bahagia melihat pencapaian ini. Dan bagi saya, ini sukses yang mengharukan.

GATHERING KOMUNITAS ANDROID SEMARANG



Popularitas smartphone Android makin hari makin meningkat. Hampir tiap bulan berbagai vendor mengeluarkan produk smartphone berbasis Android. Pada tahun 2012, lebih dari 60% smartphone yang terjual di pasaran menggunakan Android.

Android mempunyai banyak kelebihan dibandingkan dengan OS lainnya, terutama karena lisensinya yang FREE, di dukung oleh banyak vendor, dan komunitas pengguna yang solid. Semarang sebagai salah satu kota besar di Indonesia mempunyai pengguna Android cukup banyak. Meskipun mempunyai banyak pengguna, namun hingga hari ini belum ada kegiatan yang banyak melibatkan user Android dalam sebuah event bersama di Kota Semarang

Berdasarkan pertimbangan tersebut, @visitsemarang berinisiatif mengadakan acara "GATHERING KOMUNITAS ANDROID SEMARANG". Adapun format acara yang akan diselenggarakan adalah sharing session yang dikemas secara fun dan santai. Acara ini merupakan tempat berbagi ilmu, mengembangkan jaringan dan silaturahmi antar sesama user, developer, vendor dan pemerhati Android di Kota Semarang

Pembicara #1 : Sony Adi Setyawan (Pembuat Aplikasi Game Android JOKOWI)

Pembicara #2 : Retno Ika Safitri (Inisiator milis Komunitas Android Semarang)

Lokasi : Pisa Cafe & Resto, Jl. Diponegoro No. 22A, Semarang

Waktu : Jumat, 1 Maret 2013

Jam : 18:00 - 21:00

Untuk menambah kemeriahan acara, akan ada hadiah SMARTPHONE ANDROID, HEADSET, dll dari mitra. Ingat: KUOTA PESERTA TERBATAS

Sunday, January 6, 2013

Selayang Pandang : Buku Digital Interaktif


Selayang Pandang : Buku Digital Interaktif

Oleh: Sony Adi Setyawan*


Buku digital harus bersifat interaktif, agar pembaca mendapatkan pengalaman-pengalaman baru yang berbeda (Gambar: wired.com)Buku digital harus bersifat interaktif, agar pembaca mendapatkan pengalaman-pengalaman baru yang berbeda (Gambar: wired.com)

Seorang teman dari sebuah penerbitan di Yogyakarta bercerita dengan bangganya, "Perusahaan kami saat ini telah menjalin kontrak dengan sebuah perusahaan digital untuk menerbitkan buku-buku kami dalam format mobile dan tablet."
"Wah, hebat. Lalu apa yang dilakukan para penerbit untuk mengoptimalkan produknya?" kejar saya penasaran.
"Kita cuma memberikan format PDF dan selebihnya, tugas promosi dan distribusi, itu tugasnya si distributor buku digital," jawab teman saya dengan ringan.
Waktupun berlalu, 6 bulan kemudian, saya bertemu dengan rekan saya tersebut. Wajahnya tampak lesu.
"Ternyata bisnis buku digital yang dijual untuk perangkat mobile seperti tablet dansmartphone itu nggak mudah ya? Sampai sekarang, belum ada transaksi penjualannya."
"Lho? Kenapa begitu, mas?"
"Sampai sekarang, bisnis buku digital bagi kami masih gelap. Saya mau tunggu saja, kalau dalam waktu setahun tidak ada perubahan, saya mau mengundurkan diri dari perusahaan."
Jawaban teman saya tersebut menghenyakkan saya secara pribadi. Betapa aneh dan absurdnya kondisi bisnis buku digital yang saat ini sedang digaungkan para pemainnya di Indonesia. Kita melihat langkah gencar para pemain penerbit buku digital seperti Wayang Force, XL Baca, QBaca dan beberapa pemain lokal baru lainnya yang berusaha memasuki wilayah ini dengan beragam pendekatan. Adayang membangun sebuah pusat baca buku digital di sebuah mal di Jakarta, ada pula yang membangun kemitraan strategis bersama para produsen tablet dengan menjual buku-buku digital dalam jumlah paket (bundling) dan ada pula yang menggunakan kekuatan penerbit raksasa untuk menjangkau pelanggan tetapnya dengan berbagai macam iming-iming dan promosi.
Namun, hal yang membingungkan justru terjadi pada penerbit cetak yang sedang bermigrasi menjadi penerbit buku digital. Beberapa dari mereka belum dapat memahami bagaimana peta sesungguhnya bisnis buku digital tersebut.
Amazon, Barnes and Nobble dan beberapa penerbit di luar, menggunakan sebuah strategi besar dengan memproduksi sendiri perangkat tablet untuk membaca produk-produk buku digital mereka. Kehadiran perangkat Nook dan Kindle disambut meriah para pembaca buku di seluruh dunia. Bahkan, perusahaan sekelas Apple sukses membentuk divisi penerbitan buku digital dengan menggelontorkan tablet iPad dengan menggandeng para pengembang perangkat lunak seperti Adobe. Untuk memperluas lini pemasarannya, Amazon bahkan memberikan kemudahan bagi seluruh insan di dunia yang ingin mengirimkan buku digital kreasinya untuk diterbitkan lewat tablet mereka. Kita bisa turut serta menjual produk buku digital kita hanya dengan mengirimkan lewat email dan membayar biaya regristrasi sebesar $25 selama setahun sebagai merchant resmi yang diatur dalam perjanjian legal lewat internet.
Lalu, jika sedemikian mudah proses bisa kita lakukan, mengapa selalu saja ada pertanyaan dan keraguan dalam memahami bisnis buku digital? Nah, mari kita melihat bagan di bawah ini,



Tentu saja, setiap insan penerbit yang terbiasa membuat buku akan mudah memahami jalur diagram di atas. Tetapi banyak penerbit yang melupakan proses publish to tabletpublish to mobile dan publish to social. Yang harus dipahami para penerbit adalah tugas mereka bukan sekedar menghasilkan file .PDF yang diserahkan mentah-mentah kepada para penerbit buku digital. Mereka harus memahami bahwa buku digital adalah 'sebuah aplikasi' yang di dalamnya berisi konten dan 'tombol-tombol interaktif' yang menjadikan buku 'yang tidak sekedar buku yang dibaca'.
Buku Interaktif
Steve Jobs, pendiri Apple, membuat revolusi digital dengan mengenalkan tablet iPad yang menggunakan pendekatan 'sentuhan layar'. Ia berhasil membuat jutaan umat manusia tergila-gila untuk menekan berbagai macam tombol dan ikon di tablet pertama yang merubah cara orang membaca dan bermain. Ia memahami, bahwa orang membutuhkan sesuatu yang tidak melulu sebuah materi yang dilihat atau dibaca. Steve Jobs mengerti, bahwa orang membutuhkan suatu aktivitas interaktif yang menghubungkan konten dan para pembacanya.
Begitu juga dengan buku. Aktivitas interaktif apa yang anda rasakan pada saat Anda memegang sebuah buku? Memegang kertasnya? Menggenggam erat buku tersebut? Menjadikan buku sebagai sebuah bantal tidur? Atau membawanya kemanapun Anda pergi?
Lalu, jika buku tersebut menjadi buku digital, aktivitas interaktif apa yang Anda inginkan pertama kali dari sebuah buku digital? Dan sebagian besar dari jawaban dari para pembaca buku digital adalah tampilan yang menarik dan suara!
Suara?
Tahukah Anda, penjualan buku
Buku interaktif (Gambar: vimeo.com)Buku interaktif (Gambar: vimeo.com)
digital interaktif terbesar didapatkan di buku-buku pelajaran membaca untuk anak-anak? Pada peluncuran iPad tahun 2010, Steve Jobs menunjuk beberapa perusahaanpenerbitan buku digital anak-anak untuk membuatkan berbagai macam buku digital yang ditujukan pada anak-anak. Percobaan ini berhasil dengan sukses. Penjualan buku digital anak menembus angka 50 juta copy untuk belasan seri pertama yang disematkan dalam tablet iPad. Fenomena terjadi, anak-anak diAmerika Serikat dan Eropa tergila-gila dengan buku digital yang mereka baca dan mainkan lewat tablet iPad. Inti sederhananya adalah sebuah buku digital itu harus enak dibaca dan mudah dimainkan!
Lalu, bagaimana dengan buku-buku digital dengan konten serius? Kali ini Amazon yang berhasil menguasai pasar. Mereka jeli, bahwa para pembaca mereka menginginkan sebuah pengalaman membaca buku dengan interaktivitas yang baru dan memberikan kemudahan dalam fasilitas indeks dan pencarian kata. Selain itu, Amazon berhasil menciptakan tablet yang hemat daya yang memungkinkan sang pembacanya menikmati buku berhari-hari tanpa harus mencharge ulang baterai tabletnya.
Lalu, pasar buku digital dunia meledak. Sistem distribusi yang menggunakan saluran internet dan pasar aplikasi yang dibentuk Apple, Amazon, Barnes & Nobble dan Google Android menjadi acuan terhadap tumbuh kembangnya penerbitan buku digital. Tidak hanya menjadi sebuah buku digital, kini para pembaca menginginkan sebuah bentuk interaktivitas yang lebih dari sebelumnya.
Buku Aplikasi, Aplikasi Buku
Tidak lama menunggu, Adobe mengeluarkan software In Design untuk merancang buku digital interaktif untuk konsumsi pembaca pengguna tablet. Diikuti perusahaan pengembang lain yang menawarkan berbagai macam format dan kemudahan dalam membangun aplikasi buku digital interaktif.
Sebuah perusahaan baru bernama WoodWing, http://www.woodwing.com menawarkan solusi bagi para penerbit yang ingin membuat format buku digital untuk berbagai saluran distribusi seperti web, smartphone, tablet, media sosial, dan cetak. Jasa sejenis yang dijalankan WoodWing ini menjadi fenomena baru dunia buku Digital. Ketidaktahuan dan ketidaksiapan para penerbit buku tradisional menghadapi era gadget tablet, menjadi celah para konsultan dan penyedia jasa konversi buku digital. Tetapi ini sangat membantu bagi penerbit yang mempunyai konten yang sangat menarik dan siap dilemparkan ke pasar. Dari pada harus susah membangun divisi baru di bidang buku digital, lebih baik memanfaatkan jasa layanan seperti WoodWing.
Tentu saja para penerbit cetak sudah selayaknya mempersiapkan sebuah divisi khusus yang berkonsentrasi ke produksi aplikasi buku digital, jika mereka menginginkan bisnis jangka panjang. Tidak hanya bergantung pada jasa layanan konversi, melainkan harus membangun divisi yang mencurahkan perhatian di bidang software development.
Rumitkah?
Tidak sama sekali. Sebabnya, membangun sebuah departemen atau divisi yang bertanggung jawab mengurusi pembuatan aplikasi Buku Digital Interaktif sekaligus mengurus sistem distribusi pemasarannya adalah seni yang sangat menyenangkan. Begitu banyak tantangan dan kesempatan yang bisa diraih dan mungkin belum terbayangkan bagi para penerbit cetak. Kita bisa memasang berbagai macam iklan interaktif di dalam buku digital yang kita produksi, kita bisa mengembangkan system pemasaran aplikasi dengan menggunakan kekuatan social media, kita bisa menggunakan kekuatan raksasa seperti Google dan Apple untuk mendukung penerbitan buku digital kita.
Caranya?
Tunggu tulisan saya selanjutnya. Selamat bergabung di dunia Aplikasi Buku Digital Interaktif.

*Sony Adi Setyawan, CEO Taken Interactive : Mobile Apps Developer, Mobile Game Developer, Digital Book Consultant, SEO Consultant, Portal-Web Consultant (http://www.takencreative.com)

Monday, December 31, 2012

Workshop Game Developer for Kids



Hari Rabu dan Kamis, tgl 26 dan 27 Desember, saya diundang mbak @unilubis , GMnya ANTEVE, untuk mengajari anaknya dan teman-temannya untuk belajar membuat game Mobile (Android). Saya sengaja menyanggupi tantangan beliau, karena pada saat yang sama, saya sedang mempersiapkan sebuah proyek bersama Mbak Amy. Kami menyebutnya dengan nama proyek ULINULIN. Proyek tentang pembuatan aplikasi Travel dan Hotel untuk gadget Android, Windows Mobile, IOS dan Windows 8.

Nah, kembali ke workshop game developer untuk anak, saya sebenarnya hanya ingin menguji coba kemampuan saya untuk menyalurkan sedikit kemampuan saya untuk memberikan pengalaman membuat game dengan cara mudah buat anak-anak. Tapi, tantangan yang diberikan mbak Unilubis adalah bagaimana menghandel sekitar 15 anak sekaligus!

Waduh....

Bisa dibayangkan anak-anak yang sebenarnya masih duduk di bangku sekolah dasar ini harus dikumpulkan dalam ruangan kantor di EPICENTRUM ANTEVE. 15 orang berusaha fokus untuk belajar membuat game.


Dan ini suasana kelas Game Developer Workshop for Kids


Kebetulan saya jadi pengajar untuk kelas ini. Sebuah tantangan yang luar biasa dan harus saya coba. Karena ini workshop pertama kali di Indonesia yang mengajarkan anak usia SD belajar bikin Game.

Come on.... Anda pasti bingung dengan rencana saya ini. Yap, saya menggunakan sebuah Engine pembuat game Android yang bernama Game Maker Studio. Engine ini bisa anda cek di http://www.yoyogames.com
Engine ini sangat mempermudah kita untuk membuat berbagai macam game. Dari sekedar game ala angry birds sampai game yang cukup rumit dengan memanfaatkan Physics engine dan lain-lain. Eit....lha, apakah anak-anak ini juga belajar sampai tingkatan Physics Engine?

Gini, saya mencoba memberikan pelajaran dasar membuat game buat mereka dengan cara membuat game yang berbasis touchscreen. Gamenya berupa menekan obyek dan memusnahkannya.


Engine Game Maker Studio dapat di install di komputer Mac dan Windows. Sangat menarik untuk mempelajari engine ini. Apalagi Game Maker Studio punya kemampuan porting ke Windows Phone dan Windows 8. Bahkan, sangat mudah apabila kita ingin mengcompile ke iOS atau HTML5.

Saya mencoba mengajar anak-anak ini pelan-pelan. Mereka harus diberikan pengertian untuk membuat game yang sederhana. Saya cukup terkejut dengan antusias mereka yang tertarik membuat game yang bisa dijual. Whaaaaaa.......

Workshop 2 hari ini akhirnya menghasilkan berbagai macam karya yang akan ditampilkan di Google Play. Tunggu dalam 2 hari mendatang, karya anak2 ini akan bisa didownload.

Salam


Sony Adi Setyawan
Epicentrum ANTV, 26-27 desember 2012

Monday, December 10, 2012

Karena Menjadi Digital Adalah Keharusan….

Diambil dari tulisan saya pada situs http://mizan.com/news_det/karena-menjadi-digital-adalah-keharusan.html


Oleh: Sony Adi



Buku digital bersanding dengan buku konvensional (Gambar: archesnews.com)Buku digital bersanding dengan buku konvensional (Gambar: archesnews.com)

Seorang teman, pimpinan dari sebuah perusahaan penerbitan di Yogyakarta mengungkapkan rasa irinya terhadap setiap situasi pameran komputer yang kerap diselenggarakan.
“Andaikan setiap pameran buku dapat meraih pengunjung yang membludak layaknya pameran komputer, maka kita tidak akan pusing dengan bisnis perbukuan,” ujarnya dalam sebuah pertemuan antar penerbit yang diselenggarakan IKAPI Yogyakarta.

Tentunya ungkapan tersebut bukan sekadar gurauan, tetapi sebuah gambaran betapa ramainya transaksi pembelian barang-barang teknologi informasi dalam sebuah pameran teknologi sangat tidak imbang bila dibandingkan dengan transaksi pembelian buku dalam setiap pameran yang diselenggarakan para penerbit.

Secara kasat mata, kita akan mudah melihat betapa ramainya pengunjung yang datang di setiap pameran komputer yang biasanya dikombinasikan dengan pameran peralatan teknologi bergerak seperti telepon genggam dan tablet elektronik. Mari kita bandingkan dengan penyelenggaraan pameran buku. Dari tahun ke tahun, selalu saja kita mendengar keluhan para penerbit yang merasa turunnya tingkat pendapatan.

“Saingan kita bukan hanya pameran komputer. Bahkan pameran produksi kaos distro yang dikemas dengan pertunjukan musik lebih menarik minat pengunjung dibandingkan dengan pameran buku,” sambung teman saya tersebut dengan nada bergurau. “Bahkan, bisnis penjualan buku saat ini malah kalah telak dengan bisnis jual beli pulsa!”

Saya penasaran dengan ungkapan senda gurau di atas. Walaupun kesannya main-main, situasi yang disebutkan adalah kondisi nyata yang sedang terjadi di Indonesia. Lalu saya mencoba melihat ke masa silam yang terjadi pada tahun 1985, saat pameran komputer pertama diselenggarakan di Jakarta. Saat itu teknologi komputer adalah barang mahal yang tidak dimiliki setiap orang. Walaupun dipadati ribuan pengunjung, tingkat transaksi pembelian komputer masih sangat minim. Pembelinya kebanyakan perusahaan atau lembaga pemerintah yang mulai menggantikan pemakaian mesin ketik dengan komputer personal. Komputer personal belum menjadi sebuah kebutuhan. Saat itu era mesin ketik masih di puncak kejayaan. Tidak ada yang menduga, bahwa peralatan komputer di generasi awal tersebut, kelak menjadi barang yang sangat diminati masyarakat.

Sementara, di tahun yang sama, Toko Buku Gramedia Matraman baru saja dibuka, dan peluncurannya menghasilkan tingkat kehebohan yang luar biasa. Masih teringat dengan jelas, setiap penulis buku terkenal seperti Hilman Hariwijaya, penulis Lupus, menjadi tokoh terkenal dan digilai para fansnya. Tingkat penjualan buku pada saat itu sangat tinggi. Orang masih doyan membawa buku atau novel kemanapun mereka pergi. Banyak sekali orang yang memilih untuk membaca buku dibandingkan menonton acara televisi yang saat itu hanya dimonopoli oleh TVRI.
Memasuki era 90-an, kondisi dunia perbukuan masih cerah. Kita masih ingat tingkat penjualan majalah dan komik naik secara signifikan. Orang masih senang berlangganan majalah dan membaca buku sebagai sebuah keharusan. Pada jaman itu, saya masih berlangganan 2 majalah dan membeli buku minimal 1 kali dalam sebulan. Namun pada saat yang sama, bisnis peralatan teknologi informasi mulai menggeliat. Ditandai dengan lahirnya istilah “komputer jangkrik”, yaitu sebuah peralatan komputer yang dapat dirakit oleh siapa saja dan dengan biaya yang lebih murah dibandingkan membeli komputer merk terkenal. Bisnis perakitan komputer jangkrik tiba-tiba menjadi fenomena. Pembeli berduyun-duyun mengalihkan sebagian uang mereka untuk membeli barang tersebut. Saat itu, tingkat kepemilikan peralatan komputer di Indonesia mulai naik perlahan-lahan. Namun, hal tersebut belum disadari para penerbit buku sebagai pesaing di masa yang akan datang.

Lalu datanglah era internet yang mulai meledak sejak akhir 90-an. Tiba-tiba saja, setiap orang berlomba mendapatkan informasi dalam bentuk digital yang gratis dan bisa diunduh lewat internet. Saat bersamaan, teknologi telepon seluler hadir yang menjadi bisnis raksasa dan dikonsumsi ratusan juta rakyat Indonesia.
Pada titik ini, penerbit buku tersadar terjadi sebuah perubahan pola konsumsi dari para konsumen/ pembaca produk mereka. Para pembaca di era terkini menemukan sebuah bentuk baru dalam membaca teks. Mereka lebih memilih membaca dengan menggunakan teknologi dalam bentuk digital. Mereka menyerap informasi tidak melalui Koran, buku cetak, majalah atau segala hal yang dicetak dengan menggunakan kertas.

Bahkan, saat ini mereka lebih memilih peralatan bergerak seperti tablet digital dan smartphone untuk menyerap informasi penting yang dibaca setiap saat. Dan terpuruklah bisnis penerbitan buku. Kebiasaan membaca yang berubah dengan menggunakan peralatan digital menurunkan minat untuk membeli buku cetak. Asumsi tersebut diambil dari laporan data penjualan buku yang terus menurun di toko buku besar sekelas Gramedia. Memang tidak adil membandingkan penjualan buku dengan peralatan digital. Tetapi pada kenyataannya, uang mengalir begitu deras terhadap tingkat konsumsi peralatan digital dan hal yang sebaliknya terjadi pada konsumsi dan minat baca buku cetak.

Beberapa penerbit mencoba mulai memasuki ranah digital. Berkaca dengan keberhasilan Amazon yang sukses menjual buku digital yang dikemas dalam tablet Kindle besutannya, penerbit di Indonesia mulai merangkul produsen tablet digital untuk bersama mengembangkan bisnis buku digital. Ada yang menggunakan pendekatan penjualan lewat potong pulsa, penjualan lewat poin dan kartu ATM, bahkan ada yang melakukan strategi bundling, menjual tablet digital yang diisi ratusan buku digital yang disediakan para penerbit.

Segala hal diujicobakan, demi menyelamatkan bisnis penerbitan buku yang saat ini jauh menurun secara omzet. Ranah digital menjadi wilayah yang cukup menggoda bagi para penerbit yang merasa harus segera merubah diri dan merubah format buku mereka menjadi format digital yang instan. Belum ada yang terlihat berhasil, semua masih dalam tahap coba-coba. Beberapa perusahaan penyedia layanan buku digital seperti Wayang Force, Buku Tablet, XL Baca dan QBaca mencoba menjalin kemitraan dengan penerbit buku cetak.

Mereka yakin, bahwa suatu saat, minat baca masyarakat Indonesia terhadap buku digital akan tumbuh. Mereka yakin, bahwa suksesnya Amazon dan Barnes n’ Nobble dalam bisnis penjualan buku digital akan bisa diduplikasi dan dilakukan di Indonesia. Dan kita akan menunggu sampai kapanpun hingga waktu itu tiba. Waktu yang menjadi dambaan para penerbit buku di Indonesia. Saat minat baca dan tingkat konsumsi masyarakat Indonesia demikian tinggi seperti era 90-an. Sebuah pekerjaan besar yang membutuhkan sinergi antara dunia digital dan dunia penerbitan cetak.

Tuesday, November 20, 2012

Seminar Cross Platform AKAKOM Jogja


Seminar Cross Platform Mobile Apps Development

SurelCetakPDF
Seminar Cross Platform Mobile Apps Development pertama di Indonesia yang mengulas & membahas tentang proses development Mobile Apps sampai dengan submit ke store diadakan di STMIK AKAKOM Yogyakarta mulai pukul 9 pagi ini, Selasa, 20 November 2012. 
Himpunan Mahasiswa Jurusan Manajemen Informatika sebagai panitia penyelenggara acara ini menghadirkan pemateri berkelas : Titus Dondi Selaku Vice Presiden E & C dan Sony Adi Setiawan Cross Platform Moble Apps.
Panitia Penyelenggara juga telah menyiapkan berbagai fasilitas bagi 150 peserta yang hadir yaitu berupa :
1. Sertifikat
2. Snack
3. Kartu Perdana XL
4. Doorprize ( Reload Pulsa 25k )
serta, berkesempatan untuk bisa mendapatkan DOORPRIZE (2 buah Handphone)*
 Info dan contact :
a. De Totty 0898 8448 846
b. Noer Choliz 0819 0400 9351

Saturday, November 17, 2012

Ayahku datang ke Jogja

Dua hari ini aku disibukkan dengan kedatangan ayahku ke Jogja. Beliau datang bersama rombongan bis yang membawa para tamu undangan dari Jakarta menuju Jogja. Semacam tour bersama sekaligus dipaketkan dengan acara menghadiri pesta pernikahan salah satu anak dari teman ayahku.

Ah saya nggak mau bicara soal pernikahannya. Saya mau bicara soal ayahku. Dia orang paling jujur sedunia. Saking jujurnya, beliau selalu merasa berdosa kalau mendapatkan uang hadiah. Lho? Panjang ceritanya. Intinya, Ayahku itu orang yang paling bersih. Sejak semasa beliau bekerja di BNI 46, ayahku pantang menerima uang sogokan atau uang hadiah. Pernah suatu saat, ayahku mengepalai bagian pemberian kredit di BNI. Ia merasa tidak kuat di bagian tersebut karena selalu mendapatkan godaan berupa uang sogokan dan uang-uang terimakasih bagi kreditur yang berhasil mengambil kredit di BNI.

Ayahku, dengan tegas menolak semua itu. Ia berpikir, lebih baik pindah ke bagian auditing dan tidak mau pegang di bagian kredit karena takut mendapatkan dosa akibat uang2 sogokan.

Jujur, aku bangga sekali dengan ayahku ini. Usianya sudah sepuh. Beliau kelahiran 1944, tapi masih kuat untuk berjalan ke sana kemari. Beliau lebih senang naik kereta api dan berjalan kaki menuju desa kelahirannya di wonogiri. Ayahku seorang jujur yang luar biasa dan tangguh. Staminanya sangat teruji. Dia masih terlihat sehat di usia hampir 70 ini.

Ah, aku mau cerita banyak tentang ayahku ini. Tapi biarkan selama beberapa hari, aku ingin bersama dia, mendalami makna hubungan anak dan ayah. Aku sangat bangga akan dia. Ia orang jujur. Dan aku sangat bangga menjadi anaknya.

Sony Adi..