tvlabcomm@gmail.com - 0818 936 046 - 0812 271 77049

tvlabcomm@gmail.com - 0818 936 046 - 0812 271 77049
what are you looking for? I am down...

Tuesday, October 26, 2010

Tom Cruise, Menkominfo dan Bencana Alam Nasional

Tom Cruise, Menkominfo dan Bencana Alam Nasional

Ada kejadian luar biasa yang saya alami dalam beberapa jam terakhir. Tepatnya tanggal 26 Oktober 2010, sekitar jam 19-20.00 Waktu Indonesia Bagian Barat. Saya sedang memantau perkembangan Merapi dan dikejutkan dengan berita di media dan di Internet, bahwa pada saat bersamaan, terjadi letusan Gunung Merapi yang sudah dimulai semenjak sore menjelang senja.Namun kehebohan letusan tersebut baru saya sadari ketika media menampilkan tayangan yang memperlihatkan tingkat letusan dan sebaran awan panas yang berpotensi membahayakan keselamatan jiwa manusia.

Saya segera memantau account Twitter dan mendapatkan berita yang simpang siur mengenai kondisi Merapi. Untunglah saya mendapatkan sumber informasi dari relawan Combine, sebuah lembaga swadaya masyarakat di Jogja, yang menggunakan tautan di #jalinmerapi. Dari situ saya mendapatkan informasi betapa proses evakuasi mengalami hambatan, dikarenakan awan panas sedang mengobrak-abrik wilayah lereng Merapi.

Kebetulan saya juga mengikuti account twitter milik Tifatul Sembiring dan beberapa account media lainnya. Namun, yang membuat saya heran, pada saat media ramai membicarakan masalah krisis Merapi, account Twitter Menkominfo ini, malah berisikan update tentang pernyataan pribadinya tentang masalah azab, agama, dalil, ayat dan persoalan moral yang dijelaskan secara terus menerus dalam beberapa jam terakhir.

Bukan saya mengabaikan kebebasan berpendapat atau ruang berceramah yang dilakukan oleh bapak Mentri kita. Tetapi yang saya sesalkan, pada saat bersamaan, saya menemukan kerancuan, bahwa Pak Tifatul Sembiring tidak melakukan proses pemantauan atau pengendalian informasi yang disebarkan media elektronik dan internet yang pada saat yang sama, sedang melakukan reportase krisis Merapi.

Lho? Gimana sih? Kok mentri komunikasi dan informasi tidak melakukan kordinasi dengan rekan-rekan media yang sedang sibuk mengirimkan dan menyiarkan informasi Merapi terkini? Mengapa beliau asyik berkutat dengan pribadinya yang sedang sibuk membedah dalil?

Tidak ada yang salah dengan kegiatan kita terhadap ibadah dan agama kita. Tetapi, sebagai seorang menteri yang bertanggung jawab terhadap keberadaan akses informasi media secara nasional, adalah hal yang aneh bila dia tidak melakukan tugasnya sebagai MENTERI KOMUNIKASI DAN INFORMASI di saat yang luar biasa genting seperti hari ini.

Teguran pun melayang. Uni Z. Lubis, Chief Editor News and Current Affairs ANTV, tidak bisa menahan gemasnya untuk memberikan teguran kepada bapak menteri kita yang satu ini. Melalui Twitter, Uni Z. Lubis menuliskan sebagai berikut :

Nah Lho!

Beberapa menit sebelumnya, saya mencoba menanyakan ke Tifatul Sembiring untuk perhatiannya ke masalah Bencana Merapi dan Mentawai. Saya terpaksa bertanya sebanyak 2 kali, untuk mendapatkan respon beliau :

Entah sadar atau tidak, dalam 2 menit kemudian, sang Menkominfo merubah semua kicauan Twitternya menjadi tanggap ke masalah bencana Merapi!

Alhamdulillah!

Akhirnya sang Menteri ini bisa meninggalkan sejenak dunia personalnya, kembali mengurus persoalan Negara yang sedang dilanda bencana ini.Nah, permasalahannya sebenarnya nggak berhenti sampai di situ. Yang menjadi pertanyaan dasar saya adalah, sebenarnya bagaimana proses penanganan atau Standar Operating Prosedure dari pemberian informasi kepada publik dan media terhadap kasus bencana nasional?

Apakah negeri ini mempunyai SOP yang jelas dalam penanganan masalah ini. Sebab, dalam 2 hari belakangan ini, terlihat betapa simpang siurnya bagaimana Negara menjawab pertanyaan rakyatnya, mengapa terjadi sebuah bencana?

Kita lihat Fauzi Bowo, gubernur Jakarta yang hanya senyum dan melambaikan tangan terhadap pertanyaan wartawan yang menanyakan masalah banjir kepadanya. Beliau tidak bisa memberikan informasi yang jernih dan akibatnya menjadi bulan-bulanan publik. Sementara, media terlihat mengecam habis-habisan terhadap permasalahan bencana dan tidak satu suara dengan pemerintah. Lho ada apa ini? Bukankah SOP masalah penanganan bencana juga harus terintegrasi dengan SOP pemberian informasi kepada public lewat media?

Artinya, harus ada kesatuan suara dari pemerintah untuk menangani bencana dan satu suara untuk memberikan pernyataan dan kesigapan mereka memberikan informasi kepada media dan rakyat. Lalu, apa yang terjadi dengan kasus dagelan malam ini yang justru terjadi pada titik penting : Seorang Menteri Komunikasi dan Informasi? Seorang Menteri yang sangat mempunyai kekuatan strategis bergandengan dengan media dan seharusnya memberikan perhatian penuh terhadap pemberian dan pencarian informasi bencana nasional.

Maka, yang terjadi, kita melihat sebuah ketidakjelasan sikap pemerintah, media dan rakyat terhadap informasi tentang bencana.

Yang seharusnya dilakukan oleh MENKOMINFO, seharusnya sudah membuat Media Crisis Center yang bertugas focus terhadap masalah bencana nasional dalam beberapa hari belakangan ini. Tingkah laku pribadi dan kepentingan pribadi, seharusnya tidak ditunjukkan, manakala bencana itu sedang berlangsung dan sedang DILAKUKAN PROSES PENYIARAN dan reportase secara terus menerus. MENKOMINFO seharusnya memantau setiap detik proses penyiaran di media elektronik dan Internet. Ia sudah harus ada di garis START awal, bukannya menunggu ditegur untuk bergerak.

Tapi biar bagaimanapun, saya berikan hormat kepada Pak Tifatul Sembiring yang segera memperbaiki kinerjanya dan segera tanggap kembali ke persoalan media yang sedang meliput bencana. Account di Twitternya berubah menjadi sebagai berikut :

Lega rasanya, berhasil , membuat beliau berubah dalam hitungan menit. Mungkin hanya kebetulan saja. Tetapi perubahan kicauan di Twitter yang dilakukan MENKOMINFO , sangat menyejukkan masyarakat Jogja yang memantau perkembangan bencana lewat situs jejaring sosial. Bahwa, tidak semua pejabat Negara yang pasif dalam memantau bencana atau lambat seperti Pak Presiden kita yang sampai saat ini belum mengeluarkan pernyataan atas persoalan bencana di negeri ini. Padahal, kalau di Amerika Serikat atau Negara-negara maju lainnya, pernyataan Presiden terhadap bencana alam harus sudah disiarkan beberapa jam setelah bencana itu berlangsung. Karena Presiden langsung bertindak sebagai pimpinan operasi penyelamatan nasional yang menggabungkan berbagai elemen bangsa untuk cepat tanggap dan membantu masalah bencana alam.

Tapi, Presiden kita lagi kemana, sih? Apa dia nggak bisa pulang ke Indonesia dengan menggunakan pesawat kepresidenan? Barrack Obama saja harus membatalkan kunjungan kenegaraan dan segera kembali ke pusat pemerintahan manakala terjadi bencana badai di Amerika Serikat. Sementara, Presiden kita, aduh, selalu terlambat dan lamban!

Berharap kepada Dewan Perwakilan Rakyat? Hmmmm? Mereka masih liburan di Yunani bukan?

Saya lalu mencoba tidak memejamkan mata malam ini. Dan mencoba melanjutkan tulisan. Tiba-tiba saja sebuah tweet masuk. Tweet yang berasal dari seorang dari luar sana, TOM CRUISE! Benarkah? Tom Cruise pemeran film layar lebar TOP GUN dan Mission Impossible itu? Ini dia ScreenShot Twitternya :

Saya yakin, Tom Cruise tidak bisa berbahasa Indonesia. Tapi saya yakin, ia cukup pintar memanfaatkan mesin penerjeman di Internet untuk menerjemahkan maksud dan kepeduliannya terhadap bencana Merapi di Jogjakarta.

Betapa saya merasa malu, sedih dan terharu membaca tulisannya di Twitter. Tom Cruise menuliskan seperti ini

Our hearts go out to the people of Merapi & Jakarta Indonesia”

Tuan Tom Cruise yang tidak saya kenal. Tuan yang berada ribuan kilometer di ujung dunia sebelah sana. Terimakasih atas rasa simpati tuan kepada kami. Terimakasih atas kepedulian Tuan. Kami rindu kedatangan Tuan ke negeri ini. Bawakan kami niat yang tulus dan ikhlas, rasa persahabatan dan sebentuk cinta yang peduli terhadap penderitaan ini. Terimakasih Tuan Tom Cruise. Kami lebih bangga kepada dirimu.

Bukan kepada tuan-tuan aneh, sesama bangsa kami sendiri, yang asyik berlibur ke Yunani, asyik bertransaksi dan korupsi. Tuan-tuan wakil rakyat yang berlagak insomnia terhadap nasib kami. Tuan-tuan pimpinan kami yang hanya menganggap kami hanya kumpulan data statistik, rakyat berpenghasilan kecil dan pas-pasan.

Selamat datang Tuan Tom Cruise. Datanglah ke Indonesia lebih cepat, dibandingkan Presiden kami yang sedang berada entah di mana dan Wakil Rakyat kami yang sedang melancong ke Yunani,

Salam

Sony Set

Founder “Jangan Bugil di Depan Kamera!”

http://tvlab.blogspot.com/

26-27 Oktober 2010 “Tanggap bencana Merapi – Jogjakarta”

No comments: