Pemuda Sadar Informatika UNY & Diskusi Sunday Morning dengan Grapyak di UGM





Pemuda Sadar Informatika UNY & Diskusi Sunday Morning dengan Grapyak di UGM

26 April 2008, dari jam 9-12.00, saya di undang teman-teman dari UNY untuk menjadi pembicara di acara seminar Pemuda Sadar Informatika. Surprise banget, di sana ketemu dengan Pak Budianto dari Kemenegpora. Kita sebelumnya pernah bertemu dan bekerja sama dalam acara pelatihan Pemuda Sadar Informatika di Nopember 2007. Selain itu, saya bertemu dengan Pak Bambang Soprijanto dari Depkominfo dan Pak Nyoto Priyono, GM PT Telkom Jogja.

Acara dimulai agak telat karena kendala mati listrik, tapi nggak lama kok, karena pas jam 10.20, kita bisa mulai memberikan berbagai macam materi. Nah, ini dia, saya kebagian pemaparan soal JBDK dan pornografi di kalangan remaja. Tema yang sebenarnya nggak nyaman dipaparkan, seolah membongkar aib dikalangan remaja yang terjebak masalah penyimpangan pornografi. Kebetulan, saya memaparkan soal perkembangan tren pornografi setelah diberlakukannya keputusan pemblokiran situs porno yang dilakukan pemerintah. Boleh percaya atau tidak, pada minggu ke 2 bulan April, Google Trends mencatat peningkatan akses ke materi sex di Internet dari negara Indonesia. Bahkan, per 14 April 2008, menurut Google Trends, Indonesia naik peringkat menjadi 5 besar negara pengakses materi Sex di Internet! Luar Biasa!

Saya dapat cerita dari Pak Nyoto, bila Universitas Gajah Mada mempunyai Bandwith paling besar sebesar 56 megabytes per second! Ck..ck..ck. Bayangkan 1 warung Internet dengan bandwith sebesar 2 Megabytes per second, kita pelanggannya sudah bisa merasakan kecepatan dan kenyamanan dalam mengakses, bagaimana dengan UGM yang ‘kebanjiran’ bandwith super gede?


Cerita dari Pak Nyoto tersebut, saya konfirmasikan esok harinya, 27 April 2008 di UGM, kebetulan saya dapat undangan jadi pembicara di acara Sunday Morning yang diselenggarakan Grapyak (gerakan anti pornografi dan porno aksi Yogyakarta). Saya bertemu dengan pak Imawan, anggota DPRD Jogja dan Pak Bambang Prastowo dari PTIK UGM. Saya dapat cerita dari pak Bambang Prastowo, bahwa pada malam hari, penggunaan bandwith di UGM mencapai 80%! Nah ini dia, berarti, pada malam hari, jumlah pengakses internet di kampus ini lebih sedikit dari siang hari namun dengan sharing bandwith yang luar biasa besarnya. Betapa bahagianya para mahasiswa yang mengakses internet dari kampus UGM pada tengah malam. Jalur bebas hambatan untuk berselancar dan kecepatan tiada tara. Kapan ya kita bisa merasakan bandwith sebesar itu di warung-warung internet?


Acara Sunday Morning tersebut diisi dengan berbagai macam diskusi dan obrolan bagaimana menciptakan kehidupan internet yang lebih baik. Ada sebuah ide yang menarik, bagaimana jika pihak institusi pendidikan menjadi pelopor dimulainya penggunaan internet sehat. Sehat? Minimal, di kampus seperti UGM tidak ditemukan oknum-oknum yang mengakses materi pornografi. Kalau kekuatan otonomi kampus diberlakukan dan menjadi percontohan bagi masyarakat, bagaimana membuat kampus bebas pornografi, niscaya, kita bisa membuat kota Jogja menjadi lebih baik.


Bersih pornografi harus dimulai dari institusi pendidikan, lalu disebarkan ke masyarakat. Atau kita bisa menggunakan pola yang ditawarkan pak Imawan, bahwa ada pelaksanaan Top Down Process, adanya kebijakan politik dari pengambil keputusan yang disebarkan ke tingkat eksekutif dan instansi pemerintah untuk membersihkan jaringan internet mereka dari materi pornografi.


Wah, kayaknya udah cukup banyak saya nulis hari ini. Baru saja saya dapat SMS dari pak Zulkifli Asisten Deputi Fasilitator Pemuda Kemenegpora, pesan singkat. Hmmm, doakan ya. Semoga gerakan JBDK bisa membuat sesuatu di waktu yang dekat ini.

Comments

Anonymous said…
kyknya gak nyampe 56mb, cuma 40mb-an..
bisa ditilik di http://mon.ugm.ac.id