tvlabcomm@gmail.com - 0818 936 046 - 0812 271 77049

tvlabcomm@gmail.com - 0818 936 046 - 0812 271 77049
what are you looking for? I am down...

Thursday, April 30, 2009

Menyibak Kekerasan Berkedok Cinta

Menyibak Kekerasan Berkedok Cinta

Peresensi:
Humaidiy AS *)

Remaja adalah aset dan potensi bangsa yang sangat berharga, karena mereka adalah sumber daya insani yang akan meneruskan pembangunan nasional di masa mendatang. Masa remaja merupakan masa rentan, karena merupakan masa transisi dari kanak-kanak menjelang dewasa, yang ditandai dengan perkembangan yang sangat cepat dari aspek fisik, biologis dan sosial. Salah satu kegiatan yang sering dilakukan remaja adalah pacaran (dating) yang melibatkan remaja perempuan dan laki-laki. Ketika masa remaja tumbuh dan berkembang mengenal masa cinta dan kasih sayang, mereka mewujudkannya dalam sebuah hubungan berbaut Rasa sayang dan rasa memiliki. Mereka menyebutnya sebagai masa bercinta, pacaran, dating, hubungan romantis atau apapun istilah lainnya yang melukiskan sebuah pola ketertarikan anatartubuh yang melibatkan segenap emosi, jiwa dan raga.


Seiring dengan waktu, hubungan kencan (dating) yang awalnya dianggap sebagai ajang saling mengasihi, melindungi, berbagi suka dan duka bersama selanjutnya berkembang menjadi sesuatu yang dieksplorasi sedemikian rupa, yang mengarah kepada kondisi ketertarikan lebih jauh ke wilayah seksual yang seharusnya tidak dilakukan. Kebanyakan dari mereka tidak mengerti atau tidak mengetahui akibat dari perbuatannya, sehingga mereka lebih mementingkan dorongan biologisnya tanpa memperhatikan akibat dari tindakan dan perbuatannya tersebut di kemudian hari.


Saat ini, kaum remaja berkembang dalam masa kemajuan teknologi dan informasi yang sangat pesat, sehingga sangat mudah mengakses dan terpengaruh oleh informasi baru, yang pada kenyataannya tidak selalu berdampak positif bagi mereka. Buku bertajuk “Teen Dating Violence; Stop Kekerasan dalam Berpacaran” yang ditulis oleh Sony Set berdasarkan riset dan hasil wawancara, namun disajikan dengan gaya bahasa yang menarik, khas bacaan pop remaja. Melalui buku ini penulis mencoba menggambarkan berbagai ihwal kekerasan dalam berpacaran (dating violence) yang melanda jutaan remaja di Indonesia dan menjadikannya sebagai sebuah “peringatan” dalam mewaspadai berbagai tindak kekerasan terhadap remaja.


Dalam riset yang dilakukannya ke beberapa sekolah di Jakarta, Malang, Yogyakarta dan Solo, apa yang tertuang dalam buku ini menunjukkan bahwa pacaran (dating) tidak melulu berjalan indah dan menyenangkan, bahkan dalam kenyataan yang terjadi adalah berbagai bentuk pelecehan, intimidasi, kekerasan ataupun pemerkosaan yang mengatasnamakan cinta dan kasih sayang. Namun, hal yang patut disayangkan adalah bahwa persoalan ini belum mendapat porsi perhatian yang lebih dari masyarakat kita. Banyak sekali orang tua, remaja, dan guru yang belum sepenuhnya memahami masalah dating violence, kebanyakan dari mereka belum menganggap persoalaan unik ini sebagai sebuah kasus besar yang harus dicermati bersama. Dating di kalangan pelajar remaja masih dianggap sebagai aktivitas main-main, cinta monyet, atau beberapa anggapan lain yang menyatakan pacaran gaya remaja hanya sebuah permainan belaka. Padahal, data di lapangan dan kondisi aktivitas dating di kalangan remaja kita terjadi secara besar-besaran. dalam intensitas jumlah dan kualitas pelanggaran atau kekerasan yang semakin menunjukkan angka bombastis.


Dalam studi kasus terhadap remaja Indonesia, ditemukan peningkatan serius dalam data dan fakta bahwa prilaku hubungan seksual pranikah banyak sekali dilakukan oleh pasangan cinta yang duduk di bangku sekolah dan akademi. Menurut sebuah data, setiap tahun terjadi 2,5 juta kasus aborsi dan 60 % dilakukan oleh anak muda atau 1, 5 juta aborsi pertahunnya. (hal. 18). di negara maju seperti Amerika Serikat, pemerintah dan departemen yang mengurus soal pendidikan dan remaja, sangat concern membangun berbagai macam protokol guna mengatur anak muda dalam persoalan ini. Mereka serius ikut serta mengawasi aktivitas dating melibatkan banyak pihak seperti Guru, orang tua, LSM, badan pemerintah dan para remaja pelaku dating. Mereka melihat, dating violence adalah masalah besar dapat menghancurkan masa depan jutaan anak muda di sana. Disana, protokol dating violence berkembang menjadi pola kegiatan kampanye "Anti Dating Violence" yang biasa diselenggarakan setiap menjelang hari Valentine. Mengapa harus diselenggarakan di hari Valentine? Karena terdapat sebuah fakta, anak-anak muda di Amerika Serikat tercatat mencapai kegilaan dan kekerasan dalam dating pada hari-hari tersebut. Anak-anak Muda di sana mengalami masalah kronis dalam masa berpacaran dan menjadi korban atas nama cinta, yang ternyata adalah tipuan seksual belaka. Sebelumnya, pada tahun 1995 ditemukan data 7% kasus pembunuhan yang menewaskan remaja belia yang dilakukan keksihnya. 20 % remaja putri usia perguruan tinggi diperkirakan mengalami kekerasan dalam dating mereka. Bahkan, sebuah survei terbaru yang dilakukan secara serentak di beberapa negara bagian di AS melahirkan fakta, 60% perempuan usia 15-24 tahun sedang mengalami dating violence, mulai dari pelecehan sampai penganiayaan secara fisik. (hal. 38).


Penulis yang aktif mengkampanyekan gerakan Jangan Bugil di Depan Kamera (JBDK) ini menelusuri ada keterkaitan yang cukup erat antara prilaku dating violence dengan maraknya materi pornografi yang dapat dengan mudah di akses di internet. Banyak sekali remaja dengan leluasa menyalahgunakan penggunaan gadget perekam handphone, kamera digital atau handycam untuk mengabadikan aktivitas seksual dan pornografi. menyedihkan, hampir setiap hari, diprediksi dua video porno lokal disebarkan melalui internet. Korban terbesarnya remaja putri yang dieksploitasi perekamnya sendiri -- entah dengan perasaan saling suka atau dengan paksaan--yang notabene adalah kekasihnya sendiri (hal. 65).


Buku ini tidak hanya mengungkap tren berpacaran remaja masa kini dan menjadikannya sebuah wacana ilmiah ringan yang mencoba memasuki benak remaja dan orang tua sekaligus berupaya mengkampanyekan betapa berbahaya dan massifnya perkembangan dating violence ini. Sony dengan sangat lugas memaparkan dan menolak anggapan asumsi bahwa masalah dating violence dengan kekerasan seksual hanya terjadi di negara-negara maju. Kekerasan dalam masa bercinta telah menjadi isu global yang harus diwaspadai bersama, termsuk di Indonesia.


Hadirnya buku ini ke tengah-tengah pembaca dapat digunakan sebagai panduan bagi remaja, orang tua, guru dan berbagai pihak yang mempunyai perhatian terhadap perkembangan masa depan generasi muda Indonesia tentang bagaimana mensikapi gaya dating yang sehat. Bagaimanapun juga, jutaan remaja harus segera disadarkan, bahwa mereka menghadapi masalah besar dalam hal berpacaran. Sony telah memulai sesuatu yang baik dengan menggugah alam kesadaran kita, tinggal kita yang menentukan apakah masih melihat persoalan “gunung es” ini sebagai sesuatu yang wajar dan cukup berdiam diri saja atau kemudian mendukung sepenuhnya dengan cara mempersiapkan aset generasi muda Indonesia dengan pendidikan dan memberikan pemahaman yang baik sedini mungkin sejak dari lingkungan terkecil bernama rumah tangga. ***

http://batampos.co.id/Mingguan/Buku/Menyibak_Kekerasan_Berkedok_Cinta.html

No comments: