tvlabcomm@gmail.com - 0818 936 046 - 0812 271 77049

tvlabcomm@gmail.com - 0818 936 046 - 0812 271 77049
what are you looking for? I am down...

Sunday, May 21, 2006

Tip dan Trik Menulis Skenario TV

BAB I
Bekerja di Stasiun Televisi

Selamat datang! Adalah kebahagiaan bagi diri penulis membagikan berbagai macam pengalaman, ilmu dan wacana tentang dunia kreatif dan penulisan di televisi. Penulis membuat buku ini berdasarkan studi kasus, riset pustaka dan pengalaman kerja selama 6 tahun di 3 stasiun televisi yang berbeda. Penulis memulai karir sebagai penulis skenario di stasiun televisi RCTI, lalu di stasiun TRANSTV dan mendapatkan kesempatan membuat program talkshow 9 episode awal sebagai Program Director untuk DAAI TV.

Buku ini tercipta mengantisipasi banyaknya minat generasi muda yang bercita-cita bekerja di dunia televisi. Pada bulan Januari 2007, stasiun televisi TRANS TV dan TRANS 7 membuka lowongan kerja untuk 100 posisi baru. Ternyata, pelamar lowongan kerja tersebut meledak mencapai 110.000 orang dan diselenggarakan proses rekrutmen tenaga kerja menggunakan tempat di Istora Senayan Jakarta. Kejadian unik ini tercatat di Museum Rekor Indonesia dan menjadi bahan perbincangan hangat di berbagai media massa.

Begitu banyak orang yang mendambakan bekerja di stasiun televisi. Mungkin karena industri hiburan televisi menjadi magnet bisnis yang sangat menggiurkan dan menjanjikan di masa depan. Atau karena televisi adalah media paling ampuh untuk aktualisasi diri dan penyebaran informasi?

Sayangnya, buku yang membahas masalah pertelevisian di Indonesia sangatlah terbatas. Paling banyak buku-buku terbitan penerbit luar yang tentu saja tidak menggunakan studi kasus pertelevisian Indonesia. Yang lainnya berupa buku-buku penulisan skenario drama dan film. Padahal, saat ini sangat dibutuhkan sebuah wacana tulis yang mengupas sistematika sistem kerja televisi dari sisi teknis hingga sisi kreatif, yang membumi dan menggunakan riset kerja di stasiun televisi di Indonesia

Apa Isi Buku ini?

Buku ini dibuat sebagian besar berdasarkan studi kasus penulis sendiri yang selama ini berkecimpung di bidang penulisan naskah dan perancangan program. Pekerjaan jenis ini, di stasiun televisi masuk kedalam divisi tim kreatif dan berada dibawa kesatuan departemen produksi. Buku ini mencoba mengulas secara padat dan informatif berbagai macam pola kerja tim kreatif yang menjadi otak dari seluruh rangkaian acara televisi yang diproduksi stasiun televisi itu sendiri. Dibutuhkan kemampuan berimajinasi, menulis yang baik (tertata, terstruktur dan taat terhadap deadline) dan kemampuan untuk beradaptasi dengan tim produksi televisi yang kelak akan mengubah setiap huruf, setiap kata dan berbagai macam kalimat dalam naskah yang dirancang, menjadi tayangan-tayangan spektakuler impian kita selama ini. Pandai mengkhayal adalah sebuah keberuntungan, tetapi menjadikan khayalan (imajinasi) menjadi berbagai susunan kata di dalam sebuah naskah siap produksi memerlukan pengetahuan tersendiri.

Banyak sekali orang bermimpi membuat berbagai macam program acara, tetapi mereka kesulitan menuliskannya dalam kertas naskah yang dipahami secara teknis oleh tim produksi. Buku ini mencoba mengulas hal tersebut, sekaligus memberikan gambaran bagi Anda semua, bagaimana caranya meniti karir menjadi penulis naskah di stasiun televisi hingga menjadi konsultan perancang acara televisi.

Selain itu, buku ini berisikan contoh-contoh naskah berbagai acara televisi. Diantaranya contoh naskah drama, sitkom, variety show dan konsep penulisan berbagai acara televisi lainnya. Buku ini juga berisi informasi yang padat tentang proses kerja dari penemuan ide hingga diproduksi menjadi sebuah tayangan. Bagi Anda yang tertarik terjun di dunia televisi dan ingin mengetahui seluk beluk sistem kerja tim produksi televisi, Anda akan mendapatkan banyak informasi dari buku ini.

Penulis Skenario di Stasiun Televisi

Ini adalah sebuah pekerjaan yang unik di bidang pertelevisian. Penulis memulai karir sebagai penulis skenario di RCTI dan TRANS TV. Tidak bekerja menjadi karyawan tetap, tetapi menjadi karyawan kontrak. Karena terus terang, sebagai seorang penulis naskah, membutuhkan sebuah ‘ruang bebas’ dan lingkungan yang tidak terikat untuk menuangkan gagasan menjadi skenario-skenario, naskah-naskah terbaik yang siap diproduksi. Penulis Skenario biasanya menjalani hidup seperti seorang seniman, ia tidak dapat mengeluarkan ide terbaiknya manakala diperam dalam sebuah ruangan tertutup dan keteraturan ala kantor.

Tentu saja, para Penulis Skenario menikmati cara kerja seperti itu. Bahkan Pihak Stasiun Televisi memahami prinsip kerja seperti ini. Tetapi biasanya, cara kerja Penulis Skenario yang bekerja di Stasiun Televisi agak berbeda dengan para penulis skenario yang biasa menulis di rumah-rumah produksi. Perbedaannya antara lain :

1.Penulis Skenario Televisi biasanya mempunyai jadwal menulis naskah yang lebih teratur. Suasana kerja di stasiun televisi yang penuh dengan keteraturan dan kedisiplinan dapat membentuk ritme kerja menulis itu sendiri Penulis beradaptasi dengan kecepatan dan ketepatan kerja para karyawan stasiun televisi yang setiap saat dihitung perkembangannya setiap detik, menit dan jam. Televisi adalah media penyiaran yang hidup matinya tergantung terhadap iklan yang mensponsori program-program yang ditayangkan. Dan setiap departemen produksi stasiun televisi berjuang sekuat tenaga membuat berbagai macam program yang menarik, yang bisa dinikmati di setiap detik penayangannya.

2.Penulis Skenario Rumah Produksi biasanya mempunyai waktu yang cukup luang untuk menyelesaikan skenarionya, kecuali ia menulis skenario yang sudah ‘kejar tayang’ atau serial drama yang ditayangkan setiap hari (istilah teknisnya stripping program). Waktu luang terjadi, karena pihak rumah produksi yang baru memulai produksi pertama biasanya mempunyai jangka waktu yang cukup panjang untuk tahap persiapan hingga tahap pemasaran produk acara yang telah dibuatnya. Penulis Skenario Rumah Produksi juga tidak melulu bisa melihat hasil produksi dari skenario yang telah ditulisnya. Dikarenakan, tidak semua skenario yang dibuat oleh sang penulis skenario dapat diproduksi oleh rumah produksi. Dan tidak semua skenario yang sudah diproduksi dapat langsung ditayangkan. Tergantung pihak stasiun televisi mau menerima atau membeli sinetron atau program acara yang dibuat rumah produksi tersebut.

3.Penulis Skenario Stasiun Televisi mempunyai skedul kerja yang sangat dinamis. Bayangkan betapa ketatnya persaingan antar televisi. Keputusan terhadap mengganti, membuat, memperbaharui atau menghapus sebuah program bisa dilaksanakan dalam waktu 1x24jam. Seorang penulis skenario yang biasa bekerja di stasiun televisi harus terbiasa membuat segala sesuatu dalam kondisi under pressure. Bisa saja kita mendapatkan pekerjaan menulis program baru yang diminta produser di pagi hari dan harus sudah siap dipresentasikan di malam hari secara formal!

4.Penulis Skenario Stasiun Televisi biasanya harus mengikuti beberapa meeting yang disesuaikan dengan jam kerja para karyawan televisi. Penjelasannya, biasanya para karyawan stasiun televisi bekerja 10-18 jam per hari. Itu artinya, dari pagi hingga larut malam, para karyawan (tim produksi) stasiun televisi menjalankan tugasnya memproduksi acara televisi. Untuk membuat sebuah meeting membahas naskah atau rancangan program baru, dibutuhkan jam-jam luang pada saat tim produksi tidak sedang melaksanakan tugas pembuatan mata acara. Kadang kala, waktu yang bisa digunakan untuk meeting merancang dan membahas naskah program baru, dilakukan di larut malam.

Dengan berbagai macam tantangan di atas, seorang penulis skenario di stasiun televisi membutuhkan stamina yang cukup untuk menjalankan pekerjaannya. Keuntungannya adalah, jumlah pekerjaan yang dapat ditangani sang penulis, tidak akan pernah habis. Karena stasiun televisi harus membuat berbagai macam program untuk ditayangkan. 18 jam acara perhari, 126 jam acara per minggu, 540 jam mata acara perbulan! Anda bisa bayangkan betapa sibuknya seorang Penulis Skenario yang bekerja di Televisi. Karena ia berada di pusat industri tayangan hiburan itu sendiri.

Penulis Kontrak dan Penulis Tetap

Dilihat dari status pekerjaannya, ada perbedaan antara penulis Kontrak dan Penulis Tetap. Penulis Tetap biasanya adalah karyawan televisi itu sendiri yang ditugaskan menulis berbagai macam naskah acara, hanya pada stasiun televisi tempatnya bekerja. Kewajiban sebagai karyawan tetap tentunya diatur berdasarkan perjanjian yang diatur oleh bagian HRD perusahaan dan sang karyawan itu sendiri. Di setiap stasiun televisi, penulis tetap mendapatkan penghasilan dari gaji dan reward berupa bonus apabila acara yang ditulisnya mempunyai rating dan share yang tinggi.

Penulis Kontrak adalah pekerja freelance yang dikontrak stasiun televisi dalam jangka waktu atau jumlah unit episode tertentu. Ia mendapatkan pembayaran berdasarkan nilai kontrak yang telah disepakati. Perjanjian kerja sama dilakukan oleh Manajer Departemen Produksi atau Presiden Direktur stasiun televisi dengan penulis skenario kontrak itu sendiri. Layaknya seorang penulis freelance, ia dapat bekerja dimana saja dalam satu kesatuan waktu yang bersamaan. Tetapi ia wajib menyelesaikan segala macam pekerjaan berdasarkan kontrak yang disepakati. Reputasi penulis skenario freelance dibangun berdasarkan ketepatan kerja dan kualitas karya yang dihasilkan. Semakin tepat dan berkualitas, otomatis namanya akan terkenal di dunia televisi dan berakibat positif, membanjirnya banyak pekerjaan menulis untuknya.

Soal pilihan menjadi karyawan tetap atau pekerja freelance, terpulang kepada pribadi masing-masing. Tetapi atas nama kebebasan waktu dan tantangan berkarya dan bekerja, banyak sekali para penulis skenario lebih menyukai sistem kontrak dibandingkan menjadi karyawan tetap. Namun perlu dipahami, bahwa jalan panjang menjadi seorang penulis skenario yang dikontrak secara profesional, membutuhkan ketekunan dan kreatifitas tanpa batas. Persaingan di dunia kreatifitas sangat tinggi, banyak sekali penulis skenario yang terjungkal karena tidak bisa menjaga kualitas tulisannya. Namun tidak sedikit yang berhasil, karena selalu belajar menghadapi perkembangan industri tayangan televisi secara rutin.

Pengembangan Diri, Mengembangkan Karir

Seorang penulis skenario yang telah mengetahui sistematika kerja sebuah produksi di sebuah stasiun televisi, biasanya tertarik mengembangkan diri tidak hanya sekedar berhenti menulis, tetapi melihat peluang-peluang pekerjaan lain yang bisa dijalankan dalam waktu yang paralel. Peluang pekerjaan lainnya antara lain :
Konsultan Acara Program Televisi : Dengan mengetahui sistematika kerja di televisi, setiap penulis skenario yang berpengalaman akan meningkatkan kemampuannya sebagai konsultan Acara Program Televisi. Pada tataran ini, sang penulis biasanya telah mempunyai kemampuan analisa matematis, teknis, strategi dan kemampuan bernegosiasi/marketing, dengan pihak-pihak yang datang kepadanya untuk berkonsultasi membuat sebuah program acara.. Klien-klien yang datang biasanya berasal dari Production House, Televisi dan lembaga-lembaga pendidikan yang mempunyai jurusan komunikasi dan pertelevisian. Bahkan, apabila sang penulis mempunyai kemampuan mengajar yang baik, ia akan sering diundang berbagai macam workshop yang membahas tentang sistematika kerja tim kreatif di televisi. Bahkan dengan tumbuhnya berbagai macam rumah produksi dan televisi-televisi lokal, kita bisa mengembangkan sayap menjadi konsultan acara televisi baik lokal maupun nasional.

Sutradara Program Televisi : Situasi kerja dan berbagai fasilitas lengkap yang disediakan stasiun televisi, dapat memacu kita untuk berlatih meningkatkan pengetahuan untuk tidak sekedar menulis naskah saja. Di beberapa stasiun televisi, para pekerjanya diberikan kesempatan belajar membuat berbagai macam proyek demo. Proyek demo semacam proyek percobaan yang dirancang oleh tim produksi sebagai contoh produk ujicoba yang diajukan untuk dinilai bagian programming. Semacam proyek-proyek internal yang merupakan ‘latihan’ bagi tim produksi televisi membuat berbagai macam acara. Penulis skenario di stasiun televisi biasanya selalu terlibat pada proses syuting (proses produksi). Ia dapat berlatih lebih banyak, mempelajari berbagai macam produksi hingga mendapatkan kesempatan berharga untuk menjadi sutradara. Mengasah kemampuan adalah hal yang utama. Dan ini merupakan pilihan yang menarik. Banyak sekali para penulis skenario di televisi yang akhirnya terjun mendalami bidang penyutradaraan.

Produser Acara : Dalam sebuah produksi, ada 3 pihak yang selalu berkonsultasi satu dengan yang lain. Pihak tersebut adalah sutradara, produser dan penulis naskah. Namun, di tahap Pra Produksi, Produser dan Penulis Naskah terlebih dahulu menjadi tim pertama yang merancang acara di awal ide mulai dituangkan. Mereka selalu bekerja bersama, sampai naskah itu matang dan siap diproduksi. Lalu bergabunglah sutradara yang ditunjuk untuk mengeksekusi naskah yang sudah disetujui untuk dimintai pendapatnya dari sisi teknis produksi di lapangan. Di tahap Pra Produksi, penulis naskah dapat belajar banyak terhadap cara pandang produser yang sangat menitik beratkan terhadap biaya, waktu dan kemampuan berproduksi, Ia dapat mempelajari berbagai macam hitungan dan strategi manajemen yang merupakan kemampuan tersendiri yang dimiliki seorang produser. Seorang penulis skenario berpeluang besar menjadi produser. Dan artinya, satu langkah lagi akan mengantarkan sang penulis skenario menjadi seorang pengusaha (produser) sebuah rumah produksi.

Peran Penting Tim Kreatif Stasiun Televisi

Untuk membuat berbagai macam acara yang jumlahnya mencapai ratusan jam acara setiap bulannya, stasiun televisi menempatkan para penulis skenario, konseptor ide, pengembang program dan bagian riset acara televisi berada di dalam sebuah tim yang disebut tim kreatif. Tim ini adalah otak dari segala ide acara televisi. Mereka bekerja keras memeras ide dan mencoba menyajikannya menjadi kertas naskah yang siap diproduksi.

Nah, disinilah bedanya kedudukan penulis naskah di rumah produksi dengan penulis naskah di stasiun televisi. Seorang penulis naskah stasiun televisi wajib mengetahui bagaimana cara kerja tim kreatif di televisi. Mereka dihadapkan kenyataan setiap saat terhadap ritme kerja, kedisiplinan, sistematika kerja di televisi dan pola produksi stasiun televisi yang sangat padat. Hampir tidak ada waktu luang untuk berleha-leha, bahkan tim kreatif harus mampu membaca pasar. Mengetahui masalah rating acara (dijelaskan di bab berikutnya) adalah sebuah kewajiban. Berjaga setiap saat dengan setiap ide yang segar dan mau menerima masukan adalah modal utama dalam sistem kerja tim kreatif di televisi.

Walaupun terlihat sangat ketat dalam bekerja, tim kreatif diberikan kebebasan seluas-luasnya untuk mengembangkan ide. Biasanya mereka juga diberikan waktu yang cukup untuk melakukan riset dan pengumpulan data, manakala harus membuat sebuah program acara yang cukup kompleks. Saya pernah mengalami proses riset yang sangat detail di tahun 2004 pada saat bekerja bersama tim kreatif Trans TV untuk membuat sinetron DEWA 19. Selama beberapa waktu, saya membuat riset tentang masa lalu cikal bakal grup band DEWA 19 di Surabaya. Melakukan wawancara ke beberapa keluarga dan teman-teman lama personil DEWA 19 seperti Ahmad Dhani, Ari Lasso, Erwin, Andra dan Wawan.

Dari hasil riset tersebut, maka dipilah berbagai macam cerita yang menarik untuk diangkat menjadi tayangan sinetron di layar kaca. Tahap ini melalui banyak diskusi dan proses meeting marathon. Diskusi meliput proses reading (membaca naskah), input (menerima masukan terhadap draft naskah), koreksi naskah, perbandingan isi naskah dengan data riset, revisi naskah dan pembahasan rencana produksi dengan pendekatan scene by scene (naskah diteliti ulang dari setiap scene hingga siap untuk diproduksi). Proses ini sangat dibutuhkan apabila kita membuat sebuah cerita berdasarkan kisah nyata yang akan diangkat menjadi drama. Penyesuaian terhadap keakuratan data di lapangan sangatlah penting demi menjamin obyektifitas cerita dan kemampuan produksi tim yang membuatnya.

Mencari Ide

Hal yang paling menyenangkan sekaligus membingungkan adalah proses pencarian ide untuk membuat berbagai macam konsep acara. Banyak orang berbicara bahwa tidak ada sesuatu yang baru di muka bumi. Banyak penulis yang merasa buntu dalam berpikir kreatif dengan alasan kehabisan ide. Mereka mencoba mencari sesuatu yang baru, mencari ide tontonan yang menyegarkan. Tetapi banyak pula yang mengambil jalan pintas : menjiplak tontonan yang sudah ada. Banyak sekali penulis pemula merasa kekuarangan ide. Mereka menginginkan sesuatu yang baru, tetapi selama bertahun-tahun terombang-ambing tidak pernah mendapatkan ide-ide yang segar. Lalu bagaimana mencari ide yang segar? Mungkin anggapan ini benar, tetapi percayalah, sesuatu yang inovatif lebih mudah ditemukan dan lebih bisa diterima di masyarakat.

Makna inovatif di bidang pembuatan program televisi dapat diartikan menjadi sesuatu yang ‘nakal’, ‘nyeleneh’, terobosan, mengagetkan dan menyegarkan. Di tahun 2007, ada sebuah tayangan variety show yang berjudul Empat Mata. Tayangan ini layaknya acara gabungan musik dan dialog (variety show). Dibumbui dengan dialog komedi dan peran serta penonton studio dalam berinterakasi menanggapi setiap perkataan yang diucapkan pembawa acara. Sepintas tampak biasa-biasa saja, namun menjadi sebuah tayangan inovatif ketika menggunakan sentris dan karakter yang berbeda yang dibawakan presenternya. Pembuat acara ini jeli melihat peluang dan karakter seorang Tukul Arwana – sang presenter – yang berpenampilan ndeso (maaf: kampungan) dan menggunakan logat jawa yang cukup kental.

Inovasi yang terjadi adalah menggantikan format presenter yang selama ini dibawakan oleh banyak artis yang menarik atau cerdas secara penampilan menjadi sosok Tukul Arwana yang terkesan sangat lugu, norak dan sangat medhok (berlogat jawa kental). Tukul menggabungkan aspek komedi yang menertawakan diri sendiri bahkan cenderung menghina diri sendiri lewat penampilannya yang sangat komedi. Hal ini adalah sebuah inovasi, menampilkan jenis acara talkshow dengan format yang berbeda acara lainnya. Sang perancang acara berani membuat sesuatu yang berbeda, dan hingga buku ini selesai ditulis, acara Empat Mata menduduki rating acara yang cukup tinggi.

Pertanyaan sederhananya, bagaimana cara mendapatkan ide menarik lainnya? Penulis mempunyai beberapa trik yang mudah dijalankan, antara lain :

Melakukan pengamatan terhadap kata-kata : Membuat ide yang pertama kali muncul di kepala adalah judul ide itu sendiri. Judul mewakili brand (merk), semakin sederhana, semakin mudah diingat, semakin mudah dijabarkan. Penggunaaan kata-kata yang tepat, akan memudahkan ide kita diingat masyarakat. Beberapa contoh acara yang menggunakan kata-kata yang menarik adalah : FTV (Film Televisi), Rahasia Ilahi (judul sinetron religi yang ditayangkan TPI), Bajaj Bajuri (Sitkom yang ditayangkan TransTV), Republik BBM (komedi talkshow di Indosiar), Pimp my Ride (acara merenovasi mobil ala MTV), Wisata Kuliner (Acara mencicipi berbagai makanan khas daerah – TransTV), Bedah Rumah (RCTI).

Menggabungkan 2 kata atau lebih sehingga menghasilkan makna baru : Sebenarnya ini rumus utak-atik terhadap ide beberapa kata-kata unik yang kita kumpulkan. Ketika kita mencoba menggabungkan kata tersebut, akan menemukan makna yang baru sekaligus menarik. Contohnya adalah : Gong Show (tayangan atraksi TransTV), Jejak Petualang (Trans7), Uang Kaget (RCTI).

Ide adalah karakter : Banyak yang menemukan judul-judul naskah berdasarkan nama karakter yang diciptakan. Antara lain Donald Duck, Micky Mouse, Mr. Bean, Cosby Show, Bajaj Bajuri, Catatan si Boy, Si Doel Anak Betawi.

Ide adalah nama tempat : Nama-nama tempat, entah berupa khayalan atau tempat yang nyata dapat dijadikan judul-judul yang menarik. Contohnya : Lazy Town (CBS TV – Nick Jr.), Berverly Hills 90210 (Fox TV)
Mencari inspirasi dari Internet, buku, kepustakaan dan televisi! Media adalah sumber inspirasi dan ide yang sangat membantu kita mendapatkan berbagai macam ide. Penulis baru saja mendapatkan ide acara berjudul Dunia Maya karena sering mengakses internet dan menemukan kata-kata yang menarik. Di buku ini diberikan contoh naskah Dunia Maya yang saat ini sedang diproduksi di sebuah stasiun televisi.

Merubah cara pandang : Cara melatihnya sederhana, apabila kita menemukan sebuah situasi atau sesuatu hal yang menarik dalam jangkauan pandangan tertentu, cobalah untuk mengubah cara melihatnya. Dengan mengubah posisi, jarak, waktu dan sudut penglihatan, akan menghasilkan berbagai macam visualisasi yang berbeda. Visualisasi yang berbeda akan menghasilkan ide yang bermacam-macam pula. Contoh sederhana : Sebuah pasar yang ramai di siang hari, akan sangat berbeda situasinya di malam hari. Seorang pengendara becak yang mengendarai becak di jalan raya dan seorang pengendara becak lainnya yang terjebak banjir.

Membuat Inovasi pada Ide yang biasa-biasa saja

Jangan pernah menyepelekan sebuah ide! Karena sebuah ide yang biasa-biasa saja, akan menjadi luar biasa apabila kita bisa memodifikasi beberapa elemen pembantu ketika ide tersebut dieksekusi. Elemen pembantu dalam sebuah tayangan adalah :

Wardrobe : Pakaian atau kostum para pemain. Acara komedi Extravaganza Trans TV sering menggunakan berbagai macam kostum yang menarik untuk menunjang jalan cerita. Ada kostum superhero, kostum wanita yang dikenakan pemain pria dan berbagai macam kostum-kostum aneh yang ditujukan untuk membuat penonton tertawa.

Background/latar : Latar panggung sangat membantu memperkuat jalan cerita. Penonton televisi tidak bisa disuguhi tata panggung dan background yang statis. Maka dibuatlah set-set yang menarik dan imajinatif. Berbagai macam sinetron televisi kini menggunakan berbagai macam background yang menarik. Tidak melulu melakukan close up shot pada wajah pemain, tetapi menggunakan tata latar yang diselaraskan jalan cerita. Dalam acara variety show Empat Mata Trans7, pada latar belakang panggung selalu diberikan tampilan yang menarik, para penjaga kafe yang berkaki jenjang dan tata panggung yang gebyar dan memanjakan mata.
Property : Property adalah elemen tambahan berupa hiasan, alat bantu seperti Laptop, buku, komputer, televisi dan benda-benda lain yang bertujuan membantu menghiasi panggung sekaligus alat bantu untuk mempermudah produksi. Dalam variety show Empat Mata Trans7 adalah Laptop (notebook komputer). Dalam serial Mr. Bean alat bantunya dalam berekspresi adalah boneka Teddy Bear. Dalam Bajaj Bajuri, alat bantu utamanya adalah Bajaj dan peralatan salon. Dalam Gong Show TransTV, alat bantunya adalah Gong raksasa yang selalu dibunyikan untuk mengakhiri sebuah atraksi.

Jadi jangan takut untuk memasukkan berbagai macam elemen alat bantu untuk menguatkan cerita kita. Kalau perlu, buatlah sesuatu yang sangat ekstrim dan mengagetkan, misalkan saja kita membuat acara talk show dengan alat bantu gergaji (pembawa acaranya selalu sibuk menggergaji sesuatu ketika mewawancara tamunya). Atau memberikan kostum yang menarik bagi setiap karekter yang kita buat.

Inovasi penambahan elemen pada sebuah cerit diaplikasikan dalam penulisan sebuah scene drama komedi adalah sebagai berikut :

Sinopsis :
Ali adalah mahasiswa semester terakhir fakultas ekonomi yang mendapatkan dosen pembimbing skripsi yang galak. Ia selalu merasa stress dan tertekan apabila berkonsultasi skripsi kepada dosen tersebut. Suatu saat, tiba hari konsultasi skripsi yang membuat Ali kebingungan dan ketakutan atas ulah dosennya tersebut.

Penulisan contoh 1 scene berdasarkan sinopsis di atas, sebelum diberikan property, wardrobe dan elemen lain yang inovatif.

INT. RUANG DOSEN (SIANG)
Ali tampak duduk ketakutan dan ragu-ragu. Sang Dosen tampak sibuk membaca skripsi Ali.

DOSEN : Tulisan ini bagaimana tho? Datanya berantakan semua, saya nggak mau
terima.

ALI : Tapi pak, saya butuh persetujuan bapak untuk bab terakhir ini. Saya mau
Mengejar wisuda akhir bulan besok. Kalau bisa minggu depan, sudah
ujian Skripsi. Bagaimana pak?

DOSEN : Enak saja kamu? Kamu ini bikin skripsi atau sedang ngejar setoran?
Saya minta kamu ketik ulang lagi bab ini. Soal wisuda, nanti saja
Kamu bisa ikut tahun depan!

ALI : Tapi..tapi pak.

DOSEN : Nggak ada tapi-tapi. Kalau kamu menolak, saya akan paksa
Kamu nulis dari bab awal lagi! Gimana?

Ali ketakutan, ia terdiam seribu bahasa. Sementara sang Dosen tampak semakin garang.

Jika kita melihat scene di atas, maka suasana yang terbentuk adalah sebuah ketakutan dan kecemasan. Dengan menambahkan beberapa elemen, scene di atas akan kita buat menjadi menarik dan lebih bergaya humor. Contohnya adalah sebagai berikut :

Catatan : Scene yang telah ditambahi property dan elemen pendukung lainnya.


INT. RUANG DOSEN (SIANG)

Ali tampak duduk ketakutan dan ragu-ragu. Sang Dosen tampak sibuk membaca skripsi sambil menggergaji sebuah kayu yang ada di atas meja. Ali tampak bingung, kotoran dan serbuk kayu bertebaran di mana-mana. Sementara diruangan itu ada sebuah kipas angin besar yang dinyalakan dan membuat debu dan kotoran berterbangan.

DOSEN : Tulisan ini bagaimana tho? Datanya berantakan semua, saya nggak mau
Terima.

ALI : Tapi pak, saya butuh persetujuan bapak untuk bab terakhir ini. Saya mau
Mengejar wisuda akhir bulan besok. Kalau bisa minggu depan, sudah
Ujian Skripsi. Bagaimana pak?

Sang dosen tampak tersinggung, ia mengacungkan gergaji digenggamannya ke arah Ali. Ali tersentak, ia nyaris jatuh dari kursinya.

DOSEN : Enak saja kamu? Kamu ini bikin skripsi atau sedang ngejar setoran?
Saya minta kamu ketik ulang lagi bab ini. Soal wisuda, nanti saja
Kamu bisa ikut tahun depan!

ALI : Tapi..tapi pak.

DOSEN : Nggak ada tapi-tapi. Kalau kamu menolak, saya akan paksa
Kamu nulis dari bab awal lagi! Gimana?

Sang dosen semakin kesal, ia lampiaskan dengan menggergaji kayu di atas meja dengan sangat cepat dan tergesa.


Ali ketakutan, ia terdiam seribu bahasa. Sementara sang Dosen tampak semakin garang.


Tentu saja Anda dapat memodifikasi berbagai unsur elemen di atas untuk memperkuat jalan cerita. Yakinlah untuk memodifikasi setiap cerita Anda dengan menambahkan elemen-elemen yang menarik. Bahkan bila perlu, Anda dapat menggunakan berbagai macam elemen latar (background) yang bisa membuat cerita Anda lebih kaya. Elemen latar yang diberikan beberapa adegan atau beberapa karakter yang sedang beraktifitas dapat menimbulkan situasi yang saling berlawanan dengan elemen muka (foreground). Maka akan ada kesan paradoks dan membangkitkan nilai humor yang menarik. Contohnya sebagai berikut :

Sinopsis

Ali hendak mendaftar ke sekolah Institut Pemimpin Dalam Negeri. Ia bertemu dengan direktur sekolah tersebut dan diajak berkeliling kampus. Sewaktu Ali bercakap-cakap dengan sang Direktur, dibelakang latar mereka, terlihat beberapa siswa Institut yang terlibat perkelahian.

EXT. HALAMAN KAMPUS INSTITUT PEMIMPIN DALAM NEGERI (DAY)
Ali tampak sedang berjalan berkeliling halaman kampus bersama seorang Direktur Institut.
Sang Direktur tampak berusaha meyakinkan Ali bahwa kampus tersebut tepat untuk dirinya.

Direktur Institut : Tenanglah nak Ali. Masa depan Anda akan terjamin di sini. Ini institut
paling hebat di negeri, mencetak kader-kader pemimpin bangsa.

ALI : Bagaimana dengan gosip yang beredar di luaran pak? Saya dengar, di sini
Sering terjadi kasus kriminal?

Sang direktur terhenyak, lalu tertawa dan berusaha meyakinkan Ali sekali lagi.

Direktur Institut : Siapa yang bilang? Ah itu bohong. Ini kampus yang aman dan tertib.
Siswa di sini sangat sopan dan baik-baik. Kamu akan kerasan di sini.

Ali termenung, saat bersamaan, pada bagian latar mereka, tampak sekelompok senior sekolah tersebut sedang terlibat perkelahian massal dengan para yuniornya. Suasana sangat kacau, tetapi Ali dan Sang Direktur Institut tidak menyadarinya.

CUT TO

Membuat Dialog

Salah satu hal yang paling sulit di dalam menulis skenario adalah membuat dialog antar karakter. Ingat bahwa skenario sebuah tayangan drama sebagian besar berisi dialog-dialog antar karakter. Seorang penulis skenario profesional harus mampu menceritakan isi cerita skenario yang dibuatnya berdasarkan dialog-dialog yang tertata dan terukur. Membuat dialog sebenarnya tidaklah mudah, karena dialog dalam tayangan drama seharusnya dibuat sedemikian padat dan tidak bertele-tele dalam penyampaian maknanya.

Sering kali kita melihat scene-scene yang berisi dialog yang berkepanjangan.Paling banyak kita ketemui pada sinetron-sinetron remaja yang mengumbar banyak kecerewetan dalam menyampaikan isi dialog ke pemirsa. Banyak sekali adegan yang tidak berisi, bertele-tele dan berkepanjangan dalam berdialog. Lalu bagaimana caranya kita membuat dialog-dialog yang menarik dan efektif? Beberapa trik di bawah dapat memecahkan masalah Anda.

Gunakan dialog-dialog pendek untuk membuat karakter Anda berbicara. Semakin panjang dialog, semakin sulit sang aktor membawakan karakter yang diperankannya. Ia akan kesulitan mengingat dan kadang malah berimprovisasi yang mengakibatkan dialog kehilangan arah. Sistem produksi sekarang lebih mengutamakan dialog yang tertata secara naskah (scripted dialog). Ruang improvisasi dibatasi agar cerita tidak melebar dan sesuai dengan rancangan penulis dan sutradara.

Sebisa mungkin tidak menggunakan kata yang sama dalam setiap dialog yang diucapkan. Contohnya : “Problem kamu, bukan masalah saya!”. Kata ‘problem’ semakna dengan kata ‘masalah’. Namun dalam penyampaian dialog dalam sebuah scene yang kita buat, berusahalah menggunakan dua kata yang berbeda di dalam menerangkan arti yang sama. Efeknya akan membuat dialog lebih indah dan enak diucapkan.

5 comments:

AYAHAKSAN said...

Kapan diluncurkan bukunya? kabari ya, Mas.... plisssss... ato minta edisi eksklusif donk, pake tanda tangan Mas Soni. Kata orang, buku kalo ada tanda tangan penulisnya lebih afdol kalo dibaca. hehehe...

aya said...

tambahkan lagi dong tentang tip trik menulis skenarionya
saya ingin menfadi penulis skenerio tapi tidak tau ilmunya dan berhubung saya tidak punya dana untuk sekolah di bidang itu
tolong dibantu yaaaaaaaaaa
plisssssssss
dan klo boleh kirimkan tip trik menulis sjensrio yg lain ke
she_achya89@yahoo.com
terima kasih

Anonymous said...

Bukunya bagus....daku dah beliii...bahasanya enak dan mudah dimengerti..cuma masih tetep bingung untuk memulai...boleh minta contoh Skenario yang lengkap nga...hehehehe
(YDN)

tia said...

Halo Mas Soni..salam kenal ya.
Kebetulan saya lagi googling dan akhirnya ketemu tips tentang menulis skenario di blog ini.
Meskipun nggak berlatar pendidikan jurnalistik dan bukan orang media, saya pingin banget bikin skenario yang bagus karena selama ini udah bosen lihat cerita-cerita sinetron yang dialognya makin nggak karuan dan nggak mendidik(contoh: Sinetron Taaruf di TPI)..
Terima kasih atas infonya dan ditunggu posting-posting lainnya ya Mas!

seputarmalang said...

Asik nih...beli ah! Oya kok minim ya buku ato artikel tentang casting tallent?